Wednesday, June 12, 2013

Ikatan Kimia =)

Atom memiliki kecenderungan untuk mencapai kestabilan dengan cara berikatan dengan atom lain. Elektron yang berperan pada pembentukan ikatan kimia adalah elektron valensi dari suatu atom/unsur yang terlibat. Salah satu petunjuk dalam pembentukan ikatan kimia adalah adanya golongan unsur yang stabil yaitu golongan VIIIA atau golongan 18 (gas mulia). Oleh sebab  itu dalam pembentukan ikatan kimia, atom-atom akan membentuk konfigurasi elektron seperti pada unsur gas mulia.
Unsur gas mulia mempunyai elektron valensi sebanyak 8 (oktet)  kecuali Helium 2 (duplet), seperti terlihat pada table di bawah ini.
Periode Unsur Nomor Atom K L M N O P
1 He 2 2




2 Ne 10 2 8



3 Ar 18 2 8 8


4 Kr 36 2 8 18 8

5 Xe 54 2 8 18 18 8
6 Rn 86 2 8 18 32 18 8
Kecenderungan unsur-unsur untuk menjadikan konfigurasi elektronnya sama seperti gas mulia terdekat dikenal dengan istilah Aturan Oktet. Untuk mengilustrasikan ikatan kimia dapat dilakukan dengan menuliskan rumus Lewis dan rumus ikatan.
Ikatan kimia dibedakan menjadi 4 yaitu :
  1. Ikatan ion
  2. Ikatan kovalen
  3. Ikatan kovalen koordinasi
  4. Ikatan logam.
Ikatan kovalen terdiri dari :
  1. Ikatan kovalen tunggal
  2. Ikatan kovalen rangkap dua
  3. Ikatan kovalen rangkap tiga
  4. Ikatan kovalen polar
  5. Ikatan kovalen non polar
Contoh Ikatan Kovalen, lihat gambar di bawah ini !
ikatankovalen

Matematika dan Proses Pembelajarannya

Jika merunut catatan sejarah, Matematika telah lahir sejak 3000 SM yaitu pada saat Bangsa Mesir Kuno dan Babilonia mulai menggunakan aritmetika, aljabar, dan geometri untuk keperluan astronomi, bangunan dan konstruksi, perpajakan dan urusan keuangan lainnya. Sistematisasi matematika menjadi suatu ilmu, baru terjadi pada zaman Yunani Kuno yakni antara tahun 600 dan 300 SM. Sejak saat itu matematika mulai berkembang luas, interaksi matematika dengan bidang lain seperti sains dan teknologi semakin nampak. Kini, matematika telah menjadi alat penting dalam berbagai hal. Hampir setiap bidang ilmu dan teknologi memakai matematika. Dalam realita yang demikian, penguasaan terhadap matematika menjadi syarat perlu agar dapat mempertahankan eksistensi di era perkembangan ilmu dan teknologi sekarang ini.

Pembelajaran matematika secara formal umumnya diawali di bangku sekolah. Sementara itu, matematika di sekolah masih menjadi pelajaran yang menakutkan bagi para siswa. Di antara berbagai faktor yang memicu hal ini adalah proses pembelajaran yang kurang asyik dan menarik. Model pembelajaran yang sering di temui pada pembelajaran matematika adalah proses pembelajaran bercorak “teacher centered”, yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru. Sehingga guru menjadi pemeran utama dan kehadirannya menjadi sangat menentukan. Pembelajaran menjadi tak dapat dilakukan tanpa kehadiran guru. Siswa cenderung pasif dan tidak berperan selama proses pembelajaran. Sehingga proses yang muncul adalah “take and give”. Dalam merangkai pembelajaran, guru pada umumnya terbiasa dengan model standar, yakni pembelajaran yang bermula dari rumus, menghapalnya, kemudian diterapkan dalam contoh soal.

Model pembelajaran yang demikian tidak memberi ruang bagi siswa untuk melakukan observasi (mengamati), eksplorasi (menggali), inkuiri (menyelidiki), dan aktivitas-aktivitas lain yang memungkinkan mereka terlibat dan memahami permasalahan yang sesungguhnya. Model seperti ini yang mengakibatkan matematika bak kumpulan rumus yang menyeramkan, sulit dipelajari, dan nampak abstrak.


Bagaimana Sebaiknya Matematika Diajarkan?


Matematika adalah ilmu realitas, dalam artian ilmu yang bermula dari kehidupan nyata. Selayaknya pembelajarannya dimulai dari sesuatu yang nyata, dari ilustrasi yang dekat dan mampu dijangkau siswa, dan kemudian disederhanakan dalam formulasi matematis. Mengajarkan matematika bukan sekedar menyampaikan aturan-aturan, definisi-definisi, ataupun rumus-rumus yang sudah jadi. Konsep matematika seharusnya disampaikan bermula pada kondisi atau permasalahan nyata. Berikut tahapan pengajaran yang dapat dilakukan:
  1. Siswa dibawa untuk mengamati dan memahami persoalan terlebih dahulu. Selanjutnya perkenalkan beberapa definisi penting yang harus dipahami agar siswa memiliki bekal untuk memahami fenomena-fenomena yang mereka temukan di lapangan.
  2. Ajak siswa untuk melakukan eksplorasi, mencoba-coba, dan biarkan mereka melihat apa yang terjadi. Di sini akan ada proses memunculkan ide-ide kreatif yang boleh jadi diluar dugaan guru. Di sinilah ruang kreatifitas terbentuk. Siswa akan lebih menikmati proses pembelajaran yang dilakukan.
  3. Biarkan siswa membuat hipotesis/dugaan atas apa yang mereka lakukan.
  4. Guru bersama siswa membahas kegiatan yang dilakukan. Berikan kesempatan pada para siswa untuk mempresentasikan hasil pengamatan mereka. Kemudian baru dilakukan proses verifikasi, meluruskan apa yang sudah dilakukan sehingga muncul formula atau rumus atau model yang dapat dijadikan rujukan ketika siswa menemukan persoalan serupa.
  5. Satu hal yang juga tidak kalah penting adalah proses mengapresiasi. Seandainya hipotesis yang diambil oleh siswa ternyata kurang tepat maka guru hendaknya tetap memberi apresiasi. Dengan seperti itu, maka siswa akan tetap terpacu motivasinya.


Sebagai contoh dalam pembelajaran mengenai perbandingan trigonometri . Pembelajaran trigonometri sering kali ditakuti karena yang nampak ke permukaan adalah simbol-simbol dan rumus-rumus yang abstrak. Adapun maknanya jarang diangkat dan dipahamkan kepada para siswa. Perbandingan trigonometri sesungguhnya berawal dari persoalan nyata. Berikut salah satu alternatif pengajaran yang dapat dilakukan:
  1. Guru terlebih dahulu menjelaskan definisi-definisi penting sebagai bekal bagi mereka untuk melakukan observasi dilapangan.
  2. Selanjutnya minta para siswa untuk mengukur tinggi benda-benda seperti tiang bendera, pohon, bangunan kelas, dan lain-lain. Biarkan mereka berekslporasi menemukan caranya sendiri. Dari sisni tentu akan ada beragam cara yang diusulkan siswa agar dapat mengukur tinggi benda-benda tersebut. Dalam hal ini guru bertugas mengakomodir berbagai respon yang muncul, membimbing, dan mencoba mengarahkan para siswa agar tidak terlalu keluar dari wilayah yang dijadikan tujuan.
  3. Berikutnya guru dapat mengarahkan siswa untuk menerapkan perbandingan trigonometri dalam permasalahan tersebut. Misalnya akan diukur tinggi pohon P. Minta salah seorang siswa, katakanlah siswa A, berdiri dalam jarak tertentu terhadap benda yang ingin diukur ketinggiannya. Misalkan jaraknya x meter. Dengan bantuan klinometer dapat diketahui besarnya sudut yang dibentuk oleh siswa A dengan pohon P, katakanlah sudut yang dibentuk adalah ?. Dengan menggunakan aturan tangent, dengan mudah akan diperoleh tinggi pohon P. yakni:
    Tinggi pohon P = x tan(?)

  4. Ajak siswa membandingkan efektifitas dan tingkat kemudahan berbagai macam cara yang diperoleh melalui kegiatan tersebut. Dari sini akan diperoleh gambaran bahwa matematika khususnya perbandingan trigonometri dapat mempermudah menyelesaikan permasalahan yang ada.
  5. Kegiatan pembelajaran dapat diakhiri dengan meminta siswa menuliskan rangkaian kegiatan yang dilakukan hingga hasil akhir yang dicapai. Dengan ini, kemungkinan besar siswa dapat lebih memahami konsep perbandingan trigonometri.


Proses pembelajaran seperti ini, jika terus dilakukan dan dikembangkan dalam berbagai topik pembelajaran matematika , dimungkinkan akan menciptakan pembelajaran matematika yang lebih asyik dan menarik, sekaligus mengikis pencitraan buruk dan menakutkan yang melekat padanya.

Tuesday, April 30, 2013

RRatapanku (1)



Aku seorang remaja yang mulai tumbuh dewasa. Tubuhku yang pendek membuatku seperti anak smp L namun aku kini masih tak tau harus kemana jalan yang aku tempuh. Kebiasaanku setiap hari hanya belajar dan belajar tanpa memikirkan kehidupan yang berbuah materi. Ya mungkin keluargaku tidak matre tapi jaman gini itu mana bisa ada yang gratis L itu yang membuatku menaangis dan hampir putus asa. Aku yang notabennya boros tentu tidak tahu harus seperti apa kedepannya. Bahkan aku terancam tidak dilanjutkan sekolahnya L uuuuhhh.. itutu mutusin harapan bangetttt. Yaya hidup di jaman modern seperti ini sekolah pun sangaaaaattt mahal. Orang tuaku yang mungkin tidak tahu jikalau smk di daerah bandung ada daftar ulang yang lebih membuat kepala pusingg tujuh keliling. Kini aku harus seperti apa? Aku tidak tahu harus seperti apa? L
Tuhan aku bingung dengan semua ini. Dari kecil aku selalu dimanjakann L sehingga kini aku tidak tahu harus seperti apa menghadapinya L aku pusing badanku lemas selera makanpun tak nampak padahal dari pagi perutku kosong L huuuuuhhhh hidup tuh gini yaaahhh.. kepalaku pusing tugas dan omongan ayah tadi seakan membuatku tak bisa berkutik. Yahhh sekarang sudah malam namun aku ingin ini mimpiiiiii. Mimpi yang ingin segera ku selesaikann. Ingin sekali aku bangunnnn ya tuhannn ! pengeluaran bulan ini termasuk yang paling banyak dari bulan-bulan terakhir.. yaah mau bagaimana lagi toh memang perpisahan perlu dilakukan! Lantas aku harus bagaimana sekaraaangggg????????????!!!!!? Hoaaaaa :o (krik..krik..krik)
Orang tuaku selalu tak pernah percaya dengan sikapku! Seakan-akan aku selalu salah dimata mereka. Aku tidak pernah bisa berubah di mata mereka! Lantas apakah benar tuhann aku tidak bisa merubah diri L . badanku kini mulai meriang hidungku sudah tak mencium lagi dan badanku serasa remuk dalam baringan di atas kasur yang kecil dan reyot. Yaya memang serasa mimpi aku bisa masuk ke salah satu sekolah negeri di bandung tapikan ini udh takdir yaaaaa L. Just my grandma in here L why dont you in here mom ? where are you? Why you make me so weak and sad now?
Yup my granma yanng selalu ada jikaaa saat sperti ini. Aku tinggal di rumah nenek sih. Yaaaaahh aku sudah mersakan ini berulang kali. Namun hingga kini aku belum mendapat jawaban sikap akuhrus sprti apa L aku terlalu rapuh kaliya.. hiks
Pengen banget punya mamah yang selalu mengerti. Kenapa selalu sosok nenek yang mengerti keadaanku?kenapa tidak ibu saja yang mengandung dan melahirkan aku? Atau kenapa kini ayahpunberubah menjadi keras dan tidak percaya padaku L yayaaaaaa hidup memang pedih! Pedihh banget..... tapiii keyakinan ini yang bisa ngebuat aku bertahan. Bukan karna sosok org tua aku bertahan. Tapi karna ssok seorang lelaki teman seperjuangan yg selalu menasehati aku L

Wednesday, January 30, 2013

Pengambilan Keputusan



A.    Pengambilan Keputusan
Keputusan adalah suatu pilihan yang diambil di antara satu atau lebih pilihan yang tersedia. Secara garis besar, keputusan digolongkan menjadi 2 cara, yaitu keputusan rutin dan keputusan insidential.
1.       Keputusan rutin adalah keputusan yang sifatnya berulang-ulang dan terus-menerus ada (rutin), contohnya APBN dan pembayaran gaji.
2.       Keputusan insidential (tidak rutin) adalah keputusan yang sifatnya sekali-kali, diambil pada saat khusus/tertentu dan tidak bersifat rutin. Contohnya, seorang wirausaha ingin membuka cabang di luar kota.
Dalam mengambil keputusan, baik yang rutin maupun insidential, ada metode yang bisa digunakan wirausahawan, yaitu :
1.       Metode tradisional adalah pengambilan keputusan yang didasarkan pada intuisi (perasaan) dan kebiasaan.
2.       Metode modern adalah pengambilan keputusan yang didasarkan pada perhitungan matematis dengan statistik dan penggunaan instrumen modern seperti komputer, dengan pengetahuan bisnis modern.
Banyak keputusan yang berbeda harus dibuat dalam organisasi perusahaan, diantaranya :
a.       Bagaimana membuat suatu produk
b.      Bagaimana memelihara mesin
c.       Bagaimana menjamin kualitas produk
d.      Bagaimana membentuk hubungan yang saling menguntungkan dengan pelanggan.
Setiap organisasi memiliki tingkatan pengambilan keputusan. Tingkatan manajemen dalam pengambilan keputusan menunjuk pada manajemen tingkat atas, manajemen tingkat menengah dan manajemen tingkat bawah.



          Walaupun seorang wirausaha memiliki tanggung jawab, tidak berarti dalam pengambilan keputusan wirausahawan tidak membutuhkan orang lain. Seorang wirausaha bisa meminta nasihat, saran dan masukan untuk pengambilan keputusan agar lebih baik. Agar dalam pengambilan keputusan dalam organisasi bisa diterima oleh semua pihak, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:
a.       Konsensus , persetujuan dalam pengambilan keputusan oleh semua individu yang teribat di dalamnya.
b.      Kompromi, menggabungkan beberapa alternatif keputusan sehingga didapat keputusan yang terbaik dan disetujui oleh semua pihak.
c.       Konsolidasi, melakukan penguatan dan pematangan terhadap keputusan yang dianggap paling baik dan diterima seluruh pihak.
d.      Mediasi, menyelesaikan perbedaan dengan mengundang pihak ketiga sebagai penengah.
e.      Atbitrasi, menyelesaikan perbedaan dengan pihak ketiga yang lebih tinggi dalam hal bisa oleh pengadilan.
Proses pengambilan keputusan yang dilakukan wirausahawan didefinisikan sebagai langkah yang diambil pembuat keputusan untuk memilih alternatif yang tersedia. Adapun langkah-langkah sistematis yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut :
a.       Mengidentifikasi masalah, yaitu dengan mengenali terlebih dulu apa masalahnya.
b.      Mencari alternatif pemecahan, yaitu dengan memerhatikan masalah efisiensi dan efektivitas dan mencari alternatif sebanyak-banyaknya, kemudian susun menurut keinginan.
c.       Memilih alternatif, yaitu dengan mengambil satu diantara alternatif yang memberikan cara yang paling efektif dan efisien.
Untuk menentukan keputusan, ada tiga langkah yang harus diperhatikan dalam melakukan pemilihan keputusan, yaitu:
1)      Memperhitungkan secermat mungkin dampak dari setiap pilihan alternatif.
2)      Memperhitungkan seberapa besar kemungkinan dampak yang terjadi.
3)      Menjadikan tujuan sebagai pedoman.
d.      Pelaksanaan alternatif, saatnya untuk melaksanakan ke dalam bentuk tindakan dan sesuai dengan perencanaan.
e.      Evaluasi, proses pelaksanaan harus diamati dan diawasi agar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Setiap keputusan yang dihasilkan oleh perusahaan/organisasi memiliki sifat dan arah yang berbeda, bergantung dari kemampuan mengelola usaha tersebut. Sifat dan sumber arahan keputusan yang dihasilkan oleh wirausaha dalam menjalankan usahanya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut :
  1. Keputusan yang bersifat Bottom Up, artinya keputusan yang bersumber dari bawah menuju ke atas. Misalnya, seorang karyawan dapat memberikan gagasan untuk kemajuan usaha terhadap manajemen. Kelebihannya, setiap karyawan dimotivasi untuk memiliki gagasan bagi kemajuan usahanya. Perasaan memiliki perusahaan semakin bertambah karena dilibatkan dalam pengambilan keputusan, dengan demikian, perusahaan memiliki sumber ide yang sangat banyak. Kekurangannya, teralu banyak gagasan dapat memunculkan konflik karena setiap orang ingin gagasannya diterima, semakin banyak alternatif, semakin sulit dalam menentukan keputusan yang baik.
  2. Keputusan yang bersifat Top Down, artinya keputusan yang bersumber dari manajemen tingkat atas ke bawahan. Kelebihannya, perintah terjamin dari satu sumber, keputusan lebih terarah dan fokus karena bersumber dari satu arah. Kelemahannya, pemimpin bisa menjadi diktator karena setiap orang terbatas dalam mengeluarkan gagasannya.

B.    Aspek-aspek Pengambilan Keputusan
Aspek-aspek yang harus diperhatikan dapat dibagi dalam beberapa aspek, yaitu:
1.      Aspek Lingkungan (Environment)
Aspek lingkungan mempengaruhi seorang wirausaha dalam pengambilan keputusan. Lingkungan terbagi sebagai berikut :
a.       Lingkungan internal, bersumber dari dalam wirausahanya itu sendiri (pribadi)  dan bersumber dari perusahaannya.
b.      Lingkungan eksternal, bersumber dari luar perusahaan, seperti pihak konsumen, lingkungan sekitar usaha, termasuk pemerintah yang memiliki hukum.

2.      Pembuat Keputusan (Decision Maker)
Orang atau kelompok yang mengambil keputusan. Syarat individu agar mampu mengambil keputusan yang baik, yakni:

a.       Kredibel (dapat dipercaya oleh semua orang)
b.      Kapabel (punya kapabilitas atau kemampuan yang cukup)
c.       Acceptable (dapat diterima oleh seluruh pihak)
d.      Mental yang cukup dalam mengambil penentuan keputusan
e.      Dalam keadaan yang tidak tertekan dan penuh emosi.

3.      Orientasi dalam Mengambil Keputusan (Decision Oriented)
Dalam mengambil keputusan, kita harus memiliki orientasi atau arahan yang jelas agar keputusannya dapat segera tercapai. Ada 4 orientasi yang harus kita ketahui, yaitu:
a.       Orientasi Penerimaan, yaitu semua sumber yang baik ada di luar diri mereka sendiri. Jenis ini bukan yang terbaik karena menjadi bergantung pada orang lain dalam pengambilan keputusan.
b.      Orientasi Eksploitasi, artinya semua sumber, baik berasal dari luar maupun dalam perusahaan sendiri, baik secara jujur maupun mencuri ide perusahaan lain kalaupun perlu sehingga keputusan yang dihasilkan baik.
c.       Orientasi Penimbunan, artinya menutup diri dari luar dan berusaha mempertahankan eksistensi mereka.
d.      Orientasi Pemasaran, akan mengambil keputusan yang akan menaikkan “harga” mereka di mata orang lain, tidak peduli jika organisasi/perusahaan menderita kerugian.
4.      Tujuan yang Harus Dicapai
Keputusan yang baik harus memerhatikan tujuan yang telah ditetapkan. Syarat keputusan yang baik harus memerhatikan hal-hal berikut :
a.       Accessible (dapat diakses oleh semua orang).
b.      Acceptable (dapat diterima oleh seluruh pihak yang akan terkena dampaknya).
c.       Aktual (menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi saat itu).
d.      Data dan informasi yang cukup sehingga lebih dapat memperhitungkan untung ruginya.
e.      Focusing (terarah dan mengarah kepada tujuan yang diharapkan).

5.      Alternatif yang Relevan
Setiap situasi yang harus kita perlukan jangan lebih dari dua alternatif agar memudahkan kita dalam pengambilan keputusan, atau jika tidak ada yang relevan kita bisa mencari alternatif lain.
6.      Peringkat Alternatif
Banyak faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan, antara lain motivasi, persepsi, dan proses belajar. Dalam mengelola usahanya, wirausaha harus membuat keputusan akhir dengan memperhatikan faktor-faktor pertimbangan berikut:
a.       Ukuran dan kompleksitas bisnis.
b.      Harapan perkembangan bisnis.
c.       Fasilitas dan sarana.
d.      Kualitas dan kuantitas staf/karyawan.
e.      Jumlah transaksi.
f.        Faktor keuangan.
Tolak ukur keberhasilan usaha adalah Quality Improvement, Business Process Improvement, dan Speed (kecepatan dalam segala hal termasuk pengambilan keputusan) sehingga wirausahawan perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
a.       Perubahan perkembangan bisnis dunia.
b.      Perubahan selera konsumen yang selalu tidak menentu.
c.       Daerah pemasaran yang selalu berbeda karakter dan alamnya.
d.      Teknologi dan pengetahuan modern yang selalu berubah dan harus diikuti.
e.      Selalu berusaha dan berorientasi ke depan akan kemajuan usaha.

C.     Teknik Pemecahan Masalah dan Pembuatan Keputusan
Keputusan adalah suatu proses memilih cara/alternatif untuk melaksanakan pekerjaan. Faktor-faktor pengambilan keputusan dipengaruhi hal-hal berikut:
1.    Faktor manusia, yakni pihak yang akan terkena dampak keputusan tersebut.
2.    Faktor psikologis, masalah emosional, dan pengaruh kejiwaan.
3.    Faktor sasaran, harus mendorong ke arah tercapainya sasaran.
4.    Faktor fisik, memerhatikan mental dan fisi kita.
5.    Faktor waktu, harus efektif dan efisien.
6.    Faktor pelaksanaan, setiap keputusan akan menimbulkan tindakan lanjutan.
7.    Faktor sarana, alat yang mendukung pelaksanaan keputusan.
             Pengambilan keputusan merupakan satu di antara kunci keberhasilan usaha dalam manajemen bisnis. Suatu keputusan yang benar tidak asal diputuskan, tetapi harus memerhatikan banyak hal. Hal-hal yang mendasari dam mempengaruhi seorang pengusaha dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a.       Intuisi, pengambilan keputusan dengan menggunakan perasaan secara spontan.
b.      Fakta, pengambilan keputusan dengan berdasarkan fakta/data yang ada di lapangan atau sesuai dengan kenyataan.
c.       Pengalaman, pengambilan keputusan dengan menggunakan pengalaman/kebiasaan di masa lalu.
d.      Keterampilan, pengambilan keputusan dengan menggunakan keterampilan dan pengetahuan yang kita miliki.

D.    Risiko Pembuatan Keputusan
Para ekonom memiliki ungkapan “the most certain things in life is the uncertainty”. Satu-satunya hal yang pasti dalam hidup ini adalah ketidakpastian. Setiap keputusan pasti menimbulkan risiko sehingga harus diketahui kondisi-kondisi yang dihadapi oleh seorang wirausaha dalam mengambil keputusan, yaitu:
1.       Kondisi kepastian sepenuhnya, wirausahawan mengetahui dengan pasti hasil dari keputusan yang diambilnya, karena ia memiliki seua informasi dan fakta. Misalnya, jika debitur pinjam ke bank, debitur akan tahu berapa bunga yang harus dibayar setiap periodenya.
2.       Kondisi ketidakpastian sepenuhnya, wirausahawan sama sekali tidak tahu hasil dari keputusan yang diambilnya. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya pengalaman yang berkaitan tentang hal itu. Dengan mempelajari pengalaman orang lain kita dapat memperkirakan kemungkinan berhasil atau gagalnya.
3.       Kondisi risiko, terletak pada kondisi kepastian dan ketidakpastian, kondisi ini terjadi karena kurangnya informasi mengenai hasil dari keputusan yang diambil.
Setelah keputusan siap dibuat dan semua alternatif telah dicoba serta risiko untung-ruginya sudah dipertimbangkan, selanjutnya adalah membangkitkan keberanian memutuskan suatu tujuan :
a.       Keputusan yang benar dan efektif semata-mata dilandasi oleh keinginan, selera, dan sifat subjektivitas si pembuat keputusan.
b.      Kepribadian dan sikap wirausaha dalam melaksanakan keputusan dan jangan ragu-ragu.


E.     Komunikasi
Pandai berkomunikasi, berarti pandai mengorganisasikan buah pikiran ke dalam bentuk ucapan-ucapan yang jelas, menggunakan tutur kata yang enak di dengar dan mampu menarik perhatian orang lain. Komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesanatau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami dengan baik. Pernyataan manusia dinamakan pesan (message),  orang yang menyampaikan pesannya dinamakan komunikator (communicator) dan orang yang menerima pesan disebut komunikan (communicate).
                                Syarat komunikasi yang efektif dan efisien sebagai berikut:
1.           Pesan yang disampaikan hendaknya membangkitkan keinginan pribadi dan menyarankan cara memperolehnya.
2.           Pesan yang disampaikan harus dirancang terlebih dahulu sehingga dapat menarik perhatian sasaran.
3.           Pesan yang disampaikan harus menggunakan tanda-tanda yang disesuaikan dengan pengalaman.
4.           Pesan yang disampaikan hendaknya mewujudkan dan menunjukkan suatu jalan memperoleh keinginan yang layak.
     Komponen-komponen di dalam berkomunikasi adalah :
1.          Komunikator (orang yang menyampaikan pesan/informasi).
2.         Komunikan (orang yang menerima pesan/informasi).
3.         Pesan (berita yang mengandung arti/lambang bisa berupa sinar, suara, gerakan, bahasa lisan, maupun tulisan).
4.         Saluran (sarana tempat berlalunya lambang-lambang, berupa panca indera, alat dan media)
5.         Sikap (tanggapan penerima)
Seorang wirausaha memulai usahanya dengan berkomunikasi dalam rangka mengumpulkan informasi, maupun menjalin hubungan dengan para relasi bisnin. Orang-orang bisnis mengatakan “ Untuk mengelola bisnis dengan baik pasarkanlah sesuatu untuk masa depan. Agar bisa menguasai masa depan, kuasailah sebanyak-banyaknya informasi melalui komunikasi yang efektif . ”
F.     Analisis SWOT
Dalam melakukan pemilihan usaha, seorang wirausaha harus mampu menganalisis usaha apa yang paling menguntungkan dan memiliki prospek yang bagus di masa yang akan datang. Salah satu caranya dengan analisis SWOT . Analisis SWOT adalah suatu analisis dengan cara mengetahui Strength (kekuatan usaha), Weakness (kelemahan usaha), Opportunity (kesempatan/peluang yang ada), dan Threat (ancaman yang terjadi). Dalam tahap awal pemecahan masalah dengan analisis SWOT, pengusaha membutuhkan informasi dari berbagai sumber yang relevan, jelas, kredibel, dan layak dipercaya agar berguna.